Novel “Muqaddimah Cinta”
Posted by wasiatcinta on Juni 7th, 2008
“Dari sisi budaya, orang Sunda seringkali terjebak mitos kejayaan masa lalu, dengan selalu berpaling pada legenda-legenda kerajaan Padjadjaran dengan rajanya Sri Baduga Maharaja atau lebih dikenal dengan Prabu Siliwangi yang diyakini tidak mati tetapi tilem dan selalu mengawasi dan mengaping anak keturunannya. Keyakinan tersebut menyebabkan orang Sunda tidak memiliki daya juang dalam menghadapi tantangan zaman. Di samping itu karena penjajahan Mataram dan Kolonial Belanda, budaya feodal pada orang Sunda sudah merasuk ke berbagai sektor, sehingga mematikan kreatifitas.” Betul atau pun tidak, aku ingin mencoba berusaha mengubah image tersebut, bahwa orang Sunda pun bisa kreatif dan sukses. Masa kejayaan tidak akan datang dengan sendirinya. Bagaimana pun masa depan harus tetap diperjuangkan. Ak ingin bermanfaat bagi kehidupan ini. bagi diri sendiri dan keluargaku. terlebih bagi tanah kelahiran dan bangsa tercinta.
Itulah petikan monolog Indra suatu malam. Indra seorang remaja yang duduk di bangku Aliyah kelas XII. Dia merantau dari peloksik Cianjur Selatan
ke kota Bandung. Kepedihan menjadi orang tak berpunya di kampung yang terbengkalai memotivasinya untuk merubah diri dan keadaannya. Ia harus maju. Tak ingin hanya karena keterbatasan cita-cita luhurnya kandas begitu saja. Di kota Farisj Van Java itulah ia mulai menata harapan itu. Di kota itu pula ia bertemu dengan Ainun Mardhiyah. Gadis yang memaksanya mengakui kemagisan cinta. Lewat keluarga Ain ia menemukan sesuatu yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Pelajaran hidup; pergulatan rumah tangga, cinta, empati dan kesetiaan.
Lewat novel ini penulis ingin membuka kesadaran kita dengan khazanah keislaman yang kuat. Sebagai orang terpelajar, seyogyanya kita mulai mengubah mindset tentang perubahan; tidak melulu menurutkan apa kata nenek moyang bila itu hanya membuat penyesalan tak berkesudahan. Lewat Muqadimah Cinta, penulis mengajak pembaca untuk merefleksikan cinta. Karena cinta bukan sekedar ungkapan-ungkapan verbal semata. Yakinlah, selalu ada titik cahaya di kelam peradaban! Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Posted in Novelku | 1 Comment »